7/24/11

Part 26

Setelah memberi selamat kepada Rosa dan suaminya, aku mengelilingi ruangan pesta ini untuk mencari Stanley. Aneh, batang hidungnya tidak kelihatan padahal ia selalu bisa menemukanku sekalipun kami terpisah...Semakin aku mencarinya, semakin aku takut kehilangannya. Dan aku semakin menyadari betapa aku membutuhkannya.. Ketika sampai di rumah, aku buru-buru naik ke kamar Stanley. Kamarnya kosong..
Panik, aku langsung mencari mama untuk menanyakan tentang hal ini..
"Apa? Ia sudah kembali ke San Fransisco?" tanyaku tidak percaya mendengar jawaban mama.
"Jam berapa pesawatnya?" "
"Jam sembilan.."
Aku melihat jam tanganku.. Terlambat.. Seandainya aku kembali lebih cepat dari pesta itu mungkin aku masih bisa mengejarnya.. Tapi bagaimana mungkin aku pulang sebelum menyakinkan diriku bahwa ia benar-benar sudah tidak ada di pesta tersebut?

"Kalau begitu aku harus cek, flight ke San Fransisco berikut jam berapa.. gumamku.
"Apa maksudmu? kamu mau kembali ke sana?" Kini aku mendengar papaku angkat bicara.
"Iya pa.. Aku harus menjelaskan semuanya kepadanya.." Lalu aku menceritakan semuanya kepada papa mama.
"Lalu.. kamu yakin kamu mencintainya? Tampaknya kamu masih mencintai Jason.." tanya papa setelah mendengar ceritaku.
"Pa.. Cinta tidaklah cukup.. Cinta bisa pudar setiap saat.. Tapi aku benar-benar butuh Stanley dan itu tidak akan berubah untuk selamanya. Aku rasa, itu lebih kuat daripada cinta sekalipun.."Papa dan mama terdiam.
"Jadi kamu akan kembali ke San Fransisco dan meninggalkan kami lagi?" tanya papa lagi.
"Aku belum tahu pa.. Tapi aku mohon.. Biarkan aku pergi.. Biarkan aku bahagia sekali lagi.. Aku tak mau melepaskan kesempatan ini.." mereka terdiam lagi.
"Biarkan ia pergi.." Aku menatap mama tidak percaya. Sungguh tidak disangka mama akan berbicara seperti itu.
"Kamu jangan sembarangan bicara.. Kamu tahu bagaimana jadinya kalau ia tidak kembali?" Papa juga kaget mendengar uccapan mama barusan.
"Itu tandanya ia menemukan kebahagiaan di sana.. Biarkanlah... Bukankah kebahagiaan dia adalah yang terpenting bagi kita? Lagipula aku percaya pada Stanley." Jawab mama.

Aku memandangnya terharu.. Sama sekali tidak ada penyesalan yang kurasakan sewaktu aku menginjakkan kakiku lagi di kota ini.. Rasanya baru kemarin aku mengucapkan selamat tinggal dan bersedih karena aku akan merindukan setiap pelosok dari kota ini.. Ternyata aku kembali lagi.. Bahkan lebih cepat daripada yang aku duga...

Tidak sabar, aku segera mencari Stanley. Ketika aku sampai dirumahnya, ia tidak ada di sana.. Setengah panik dan tidak sabar, aku pergi ke cafe tempat kami biasa mampir untuk ketemuan saat break jam kantor.. Ia juga tidak di sana...

Putus asa, kuputar otakku, mencoba mengira-ngira di mana gerangan ia berada.. Karena tak kutemukan juga jawabannya, aku memutuskan untuk mendinginkan dulu kepalaku. Mungkin aku terlalu panik dan tergesa-gesa sehingga tidak bisa berpikir dengan baik.
Kalau hatiku sedang kacau seperti saat ini, aku akan pergi ke pantai. Melihat lautan air tanpa batas seperti memberiku kekuatan untuk melanjutkan hidupku dan yakin bahwa hidupku masih terbentang luas..
Jadi saat ini, pantai adalah satu-satunya tempat yang terlintas di benakku...

0 komentar:

Post a Comment