4/22/11

Part 11

"Bianca!!" teriaknya tertahan. Aku tersenyum dan langsung memeluknya. Lalu kulihat Jason muncul, hanya mengenakan celana boxer pendek. Aku tersenyum dan hampir memanggilnya ketika aku sadar ia sedang merangkul seorang perempuan yang tidak pernah aku kenal. Perempuan itu juga hanya mengenakan pakaian tidur seadanya. Jason masih mengucek-ucek matanya. 

"Siapa Sa? kok bisa masuk sini?" tanyanya pada Rosa. Sementara yang ditanya tidak berani menoleh ke belakang. 
Tersentak, kulepaskan pelukanku. Jason juga segera menyadari kehadiranku disitu dan buru-buru melepaskan rangkulannya. Terlambat... aku sudah melihatnya.. Belum sempat seseorang mengucapkan sepatah kata pun, aku langsung berbalik dan pergi, menekan-nekan tombol lift denga tidak sabar.

"Bianca! Tunggu!" kudengar Jason berlari dan mengejarku. Ia lalu mencengkeram lenganku keras, membuatkku tak mampu berontak. Aku berbalik menatapnya namun pandanganku kabur, tertutup oleh air mata yang sudah siap mengalir. Ia tidak mengucapkan apa-apa. Ia menarikku ke pelikannya dengan paksa.

Aku hanya bisa menangis seraya sesekali memukul bahunya yang bidang itu. Perempuan itu beranjak mendekati kami. Ia berdiri di belakangku, tepat berhadapan dengan Jason.

"Ini pacarmu?" tanyanya sinis. "Bukan." Jason menjawab mantap. "Ia tunanganku.." sambungnya seraya mempererat pelukannya seolah ingin melindungiku. Tangisku makin menjadi mendengar jawaban Jason itu.

Perempuan itu mendengus marah. " Kalau begitu, kau dalam masalah besar sekarang... Bagus, kau rasakanlah akibat dari perbuatanmu sendiri!" bentaknya setengah berteriak.
Lalu aku mendengar suara tamparan. Aku menolehkan wajahku dan melihat Jason sedang memegang sebelah pipinya. "Tamparan itu untukku. Dan ini untuk tunanganmu." Ia lalu menampar Jason lagi.
Kulihat mata perempuan itu menyala oleh api amarah namun aku tahu ia juga tengah menahan air mata yang sudah mulai membasahi matanya. Aku tahu ia sama sedihnya denganku. Hanya saja, ia sedikit lebih kuat dariku...

Perempuan itu lalu mengalihkan pandangannya kepadaku. "Kurasa kau pun tahu, jahanam ini tidak pantas untukmu.." ucapnya sebelum berlalu. 
Kulihat ia masuk ke dalam lift yang sudah terbuka sambil menenteng pakaian dalam tasnya. Ia sama sekali tidak menoleh lagi ke arah kami...


Mataku menerawang kosong. Aku sudah lelah menangis. Rosa sedari tadi merangkulku. Jason juga hanya duduk memandangku. Belum ada di antara kami yang bicara semenjak Rosa mengajakku masuk ke apartement mereka untuk menenangkan diriku. Mereka berdua seolah menungguku untuk bicara terlebih dahulu.

Aku bangkit dari dudukku. "Aku mau pulang". Ucapku mantap. Sebelum ada di antara mereka yang mencegahku, aku menoleh ke arah Rosa, "Kamu mau antar aku ke airport kan?" 
Rosa menoleh ke arahku dan kakaknya bergantian. "Kalau kamu tidak mau, aku bisa pergi sendiri." Ucapku akhirnya mengangkat barang-barangku.

"Tunggu." Kudengar akhirnya Jason bersuara. Entah mengapa, air mata ini ingin mengalir lagi ketika mendengar suaranya. aku tidak menoleh. Ia berjalan menghampiriku dan menyentuh tanganku lembut. 
"Jangan pergi dulu. Kita harus bicara."

Aku menoleh, menatapnya tajam dan kusentakkan lenganku. "Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Jason."
Aku pun membuka pintu apartment itu dan melangkah pergi. Rosa buru-buru mengambil kunci mobilnya.
"Ca, aku antar kamu.." ia membantuku membawa tasku dan berjalan bersamaku, meninggalkan Jason sendirian.
Ketika lift itu terbuka, kudengar Jason memanggilku sekali lagi. Aku masih tetap tidak menoleh. aku tetap melangkah masuk ke dalam lift itu.

"Bianca, aku akan menunggumu... walaupun harus seribu tahun..." kudengar suaranya bergetar sat mengucapkannya. Aku tak menjawab. Pintu lift itu tertutup dan barulah aku mulai menangis lagi... Rosa terus memelukku.

Hening... itulah yang kubutuhkan....




0 komentar:

Post a Comment